“Bajingan… roma bener-bener bajingan!” maki Gembul sambil membanting koran lawas di atas meja di teras gedung madrasah

“Eee, e, e… kamu ada apa kok pagi- pagi begini sudah berani mbajingan-mbajinganke roma ?” tanya lek Gono yang juga sedang berada di halaman masjid dan lagi wedangan.

“Ini lho Lek Gono, Roma ini kok kelihatanya ndak becus bal-balan
,padahal musuhnya hanya tim gurem blas ra kondang, hla kok isa-isane kalah,wis pokoke Roma bajingan lah Lek no ! “

“Dimaklumi saja, Mbul… dimaklumi saja.”

Gembul adalah fans berat tim sepak bola dari italia, as roma, dia masih terbilang sebagai penggemar sepak bola baru, karena memang baru belakangan ini suka nonton bola. Ia adalah salah satu yang sering baca koran di papan depan masjid . Hampir setiap hari ia selalu mampir ke halaman masjid ini, mungkin karena memang ingin tahu tentang perkembangan tim kesayanganya,dan lokasinya yang tak terlalu jauh dari rumahnya.

“Cunh, itu si Gembul di pesenke wedang sisan, biar adem otaknya, kalau ndak cepet-cepet dibikin adem, bisa-bisa kita ini pun nanti bakal ikut dibajingan-bajingankan!” Lek Gono memberi instruksi kepada saya

“Siyap Lek!” jawab saya mantap sambil cak-cek pesen teh panas di warung lek man.

“Ini Mbul, diminum, biar adem otaknya,” kata saya sambil meletakkan segelas teh panas di atas meja di hadapan Gembul, bersebelahan dengan koran yang tadi dibantingnya. Saya sempat melirik sebentar, di koran tersebut, tertulis headline yang cukup provokatif “ As roma keok dibantai 5-1 oleh tim kelas bawah”

“Gimana, Cung, menurutmu?” tanya Gembul.

“Gimana apanya?”

“Lha itu, As roma dibantai, “

“Wah, aku ndak tahu je Mbul, lha wong aku ndak terlalu mudeng dengan bal-balan balan luar negri,” jawab saya diplomatis, semata agar bisa menghindar dari perdebatan panjang dengan Gembul. Maklum, berdebat dengan Gembul soal sepak bola adalah salah satu pekerjaan yang bisa membuat saya menjadi tidak bergairah.

“Wah, kamu itu kok ya radong banget tho sama perkara penting begini, mbok rodo mengikuti perkembangan bola sedikit.
aku yang ki maune yo radong ,sama urusan-urusan sepak bola luar begini kok! Gara-gara dulu menang taruhan saya suka as Roma,ha kok Saiki malahan.”

“Hasyah, memeng Mbul, daripada mikir bal-balan, mending sibuk golek dagangan, lebih nyata khasiatnya, dan lebih nyata juga hasilnya.”

“Oalah,golek duwit wae sing di pikir. “

Saya cuek saja dan lekas menghabiskan teh yang kupesan tadi.

“Lek , kok si Gembul bisa sebegitunya ya? jiwa itu lho, mburap-mburap, padahal suka Roma belum lama” tanya saya sama lek Margono, “Mangkel yo mangkel, tapi kan yo ndak pakai mbajingan-mbajinganke begitu,”

“Maklum Cung, Romania anyaran ,kene i wes ket jaman baholak je seneng Roma!” jawab Margono pelan, saya cuma terkekeh sambil menghisap rokokku dalam-dalam.

” Ramasyok nek kowe No ! “gerutu gembul.Kali ini Gembul tidak manggil Lek,saking getingnya

” Welha…. Diam -diam gini aku ki yo Roma-nia sejati, ket kowe do isek indil-indil, tapi yo ora model ngono, mbajeng-bajengke idolane. sak penake udele dewe. ” Margono mulai menaikan tensi bicaranya setelah mendengar cemoohan gembul,mungkin dia merasa lebih senior dalam urusan mengenal Roma.

” Haessmbuuh lek, “jawab Gembul pada Margono, lalu beberapa saat diam, setelah sempat sedikit saling tegang.

Sebagai orang yang juga selalu mengklaim dirinya sebagai Romania dan ndilalah juga ketemu seorang pendukung roma, Tentu perasaan Margono bergejolak hebat begitu mendengar apa kata Gembul itu. Wajahnya jadi nampak sangat sangat kecut.

Sesama pendukung Roma kok ndak akur, batin saya. Tapi untunglah, tak berselang lama, Gembul segera bisa menguasai suasana, dan tampaknya, ia sudah punya pemecahan yang diplomatis. Hal ini terlihat dari raut wajahnya yang berangsur mulai terlihat normal dan tidak lagi njelehi.

“Cung, pamit dulu, nuwun di traktir wedang!” teriak Gembul agak mengagetkan

Margono bangkit dari duduk manis-nya, “La kok malah minggat , mau kemana?” tanya lek gono

“Mau pulang, mau tidur, biar nanti malem bisa melek nonton idola, wong nanti malem, roma main lawan milan,”

Bagai disambar petir, Margono langsung mak jenggirat, kaget, kena touche yang kelihatannya sangat temapuk dari Gembul.

” Lho, ket mau ki sing tok omonke bal-balan to,weh tak kiro ngomongke idolaku sang raja ndangdut Roma irama je.Sory “Margono menjelaskan sambil tersipu malu.

” Wooo…lha bajingkrek tenan,Mosok yo ngomongke Preman Dangdut, iiih, najis..Lek.! “jawab Gembul sengak.

Saya jadi kasihan melihat lek Margono Wajahnya itu lho, wagu-wagu asu.

“Ya wes, nggo neruske le padu sesok, kamu ndukung milan! terus nanti taruhan” kata Gembul mantap. “Atau gimana ya baiknya lek ? barangkali ada saran?” lanjut Gembur.

“La yo embuh, ra urusan, wong aku pendukung Roma ndangdut..je.!” kata Margono terkekeh. Saya ikut terkekeh, dan Gembul pun pasang muka mecucu.

NB: Tulisan ini murni Fiksi, kalau ndilalah ada kesamaan nama atau tempat, itu memang disengaja.Wes tak aku wae lek sing ndukung milan, FORZA MILAN, vinci per noi.