Sore itu, Saya, Gembul , dan Dargombez asyik bercengkerama sambil mabuk, saya ndak ikut mabuknya karena sudah berjanji tidak akan mabuk lagi,biasalah karena ada satu atau dua hal dan mereka memahami ,di buk perempatan lor ndeso jalan dekat rumah saya. Yah, hitung-hitung menghabiskan sore hari sambil menunggu kawan-kawan lain pulang kerja.
Sambil ngobrol, Sesekali, Gembul dan Dargombez bergantian minum lapen ( ciu) dari botol aqua ukuran sedang yang sudah dihilangkan labelnya. Maklum, karena hanya dua orang, mabuknya pun tidak dibandari atau tidak dituang di gelas sloki dan diputar sesuai giliran minum , melainkan ditenggak langsung dari botolnya secara bergantian.
“Mbez, lihat deh,” kataku pada Dargombez sembari menunjukkan Rini yang sedang melintas pojok kampung tempat kami bertiga nongkrong, “Giginya pakai behel,keren ,ya.”
Dargombez hanya melirik sebentar, ia memang sedang sibuk dengan botol dan kacang kulit sebagai tambulnya, ia tidak lagi bersemangat membicarakanya,mungkin saja karena habis putus , ia hanya menimpali cuek dengan sedikit mengejek, ” Dasar cah gumunan. Lihat cewek segitu aja gumun. “
Mendapat tanggapan begitu, tentu saja wajahku kecut.
“Aku i kalau ketemu cewek malah bingung,soalnya….” kata Dargombez yang kemudian langsung saya potong sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya.
“Dasar cah bingungan.lihat cewek segitu aja bingung.”Balasku dengan nada senyolot mungkin.
Kali ini, giliran tampang Dargombez yang berubah kecut, dan kekecutanya tentu saja melebihi kekecutan tampang saya tadi,dia ganteng dewe sak ndeso mirip Bertrand Antolin,kalau dilihat dengan sedotan es.Dan saya tak peduli. Ia harus mendapatkan pelajaran yang setimpal. seperti dendam, kekonyolan harus di balas tuntas.
“Untu wis apik-apik ,kok seh dikawat,warnane biru sisan,malah koyo pager kantor PLN !,”celoteh Antoro yang biasa di panggil Gembul,karena badannya mirip tandon tampungan air .
“Haiyo,Jan koyo kurang gawean,ha nek Kowe Tong,minat Ra pasang kawat untu koyo mono? Mbok menowo mrongosmu Keling sithik – sithik.” tanya Dargombez pada saya.
“Ah,ra minat aku,wis ben ngene wae,rasah dikawat-kawat barang,teko Narimo ing pandum,rasah aneh-aneh,mrongos yo mrongos.” jawab saya agak bangga dengan kemrongosan saya.
Sesaat, saya jadi takabur, saya merasa menjadi orang yang paling bersyukur di dunia.
“Bener Tong ,ra usah aneh-aneh pasang kawat untu,untumu ki kan wis dadi ciri khas,rasah diubah-ubah.yo mbok menowo suk Kowe mati Nang ndalan lak polisine njuk gampang le ngidentifikasi ,Ra perlu main otopsi,cukup ndelok Cocotmu ! “ kata Dargombez sengak.
“Ndiasmu mlocot Kuwi su !” umpat saya. Dan kami bertiga pun tertawa terbahak-bahak.
“Sek,tak Nang warung dilit !” kata saya seraya bangkit dari duduk dan melangkah ke warung yang lokasinya hanya beberapa langkah dari tempat kami ngobrol.
“Tong ,jarum super loro Tong !” kata Gembul sambil memicingkan sebelah matanya dengan sangat genit, jarum super merujuk pada salah satu varian rokok.
“Ha duite endi ? ” tanya saya.
“Hayo Melu Kowe tho,ngono kok Yo seh Takon lho,ha nek aku nduwe duwit Ra bakal aku nembung ro Kowe!”.
“Hasyuu,wegah,duitku meh entek,nek Ra nduwe duit yo wis,rasah ngudud !.”
“Lha Wak dhewe Ki nek omong-omongan ngene trus ra Ono rokok’e ki Jan njuk koyo wong padu je !.”
“Ha ha ha..!.”saya tertawa kecil, saya sudah hafal, ini siasat basa-basi Gembul kalau minta dibelikan rokok, basa-basi yang teramat garing kerontang, namun sering sukses membuat saya luluh. Saya pun melangkah ke warung dan membelikan dua batang rokok jarum super sesuai pesanan Gembul.
“Nyoh !”sambil ku lemparkan dua batang rokok pesanan Gembul . “Le mbayar sesuk yo ra popo ! “, kata saya menggoda Gembul. Yang digoda hanya nyengir nglegani.
Gembul pun langsung meraih satu batang rokoknya dan langsung menyalakannya.
Belum habis seperempat batang, tiba-tiba muncul mas Arip dengan mengendarai motor Astrea Grand kesayangannya. Mas Arip adalah seorang pegawai negeri bekerja di pasar yang ngontrak di dekat rumah Dargombez .
Mas Arip berhenti di dekat tempat Saya, Gembul , dan Dargombez ngobrol
“Rokok Mbul ?”, kata Mas Arip yang lebih populer dengan panggilan mbah Surep menawari Gembul rokok.
“Wah,rasah mas,matursuwun,Ki wis nduwe rokok kok !”, kata Gembul sambil menujukkan rokoknya yang masih belum habis, mencoba menolak dengan halus pemberian rokok dari Mas Arip.
“Halah,Iki,..teko jupuk wae,turahan kok !”,, kata mas Arip memaksa sambil mengulungkan sebungkus rokok Dji Sam Soe kepada Gembul. “Jupuk kabeh wae !”, tambahnya.
Gembul rikuh, dan dengan agak sungkan, tapi mau bagaimana lagi, ia pun kemudian mengambil sebungkus rokok yang ditawarkan oleh Mas Arip. Saya tahu, dalam hati, sebenarnya Gembul girang bukan main karena diberi rokok oleh Mas Arip ini. Hanya mungkin, Gembul masih punya gengsi yang agak mumpuni.
“Matursuwun lho buoos, matursuwun !”
“Yo,koyo Karo sopo wae lho,” kata mas Arip singkat sambil berlalu.
Begitu dilihatnya mas Arip sudah cukup jauh dan dirasa cukup aman, Gembul langsung memeriksa bungkusan rokok yang ada di tangannya, dilihatnya dengan seksama. “Wah,Jan lumayan tenan,isine seh akeh,mung gek kelong papat ! .”
“Gayamu,Mbul LLJB.”
“Opo kuwi ?.”
“Lagu lama judul baru.”
“Oalah,Jan rejekine wong mabuk ki ono wae,Gusti Alloh ki cen apikan,wong mabukan we seh dikei rejeki rokok ,isine meh sak bungkus sisan !”Kata Gembul.
Saya tercekat dengan kalimat Gembul, kali ini saya merasa menjadi orang yang paling tidak bersyukur di dunia.Dargombez yang sedang melamun sempat tergagap – gagap saat saya bilang :
“Kae si gigi kawat liwat meneh,kejar kono mbez.”
“Hees…cerewet wae,Moh Ndak koyo Gembul,”Katanya”Mosok meh ngepek Tonggo,Ra kreatif ! Daya jelajahe kurang no, minimal luar kota tho Yo !!” jawab Dargombez, nampak dia sangat kesal dengan Rini, gadis yang juga masih satu rt dengannya.
“Ha ha ha… bajingkrek tenan kowe Mbez.” Saya tertawa lepas sambil menunjuk-nunjukan jari ke arah Gembul yang mendadak pucat.Dia tadi yang ngajak minum karena sedang galau, pacarnya yang kebetulan juga tetangga di lamar Laki – laki lain.
“Wo lha Assuuu….!” Gembul menggerutu
Saya dan Dargombez tak bisa menahan tawa melihat ekspresi Gembul yang jarang mengumpat ini .Lalu dia berdiri sembari membuang potongan ranting pohon yang baru saja buat nggambar daun waru dan tanda petir di tengahnya, mabuk kok sempat – sempatnya ngurek – ngurek tanah,sempat ku baca tadi ,kalau tidak salah tulisan ailofeyou….anih-anih saja Gembul ini.
“Piss Mbul,sory bercanda.wes pokoke aku bocahmu,tos.” Kata Dargombez dengan gaya wong mabuk, padahal baru minum dua cegukan,dan sudah hampir menghabiskan satu kilo kacang kulit,malah lebih mirip wong lomba ‘ngonceki kacang’.
“Hla ,kamu Tong ,masih mengejar dia?.” tanya Gembul pada saya dengan logat bahasa Indonesia, sambil menghisap rokoknya dalam – dalam.
“Males,aku mau fokus mengejar karir saja.” jawab saya seadanya.
“WHOHAHAHA…..” kini giliran mereka berdua yang kompak tertawa durjana.
“Karir anaknya pak kurir ya?.”Dargombez nampak senang bisa membalas ledekan pada saya.
“Di rewangi leren ngombe,ngalor ngidol wong loro,jebul tetep mung dianggep konco.” Gembul menimpali dengan kata-kata mutiara,seperti membicarakan dirinya sendiri
“Asyuuuuuu…asu….Jian,…bulno Wak Dewe wong telu kabeh nasipe Podo”
“Podo le ngopo ?”
“Podo-podo le ra sido kasil pek nggo” ( ngepek bojo Tonggo )
“Wes ,sok golek bojo wong njobo ndeso Tong….Gentho kok rimih.”
“Yowis kene,aku tak melu ngombe wae,wis direwangi sue ora ngombe ,yo ra urung ming di anggep konco.”
“Berarti kuwi di tolak hudu mergo mabukmu,tapi mergo mrongosmu.Huakaakaa….”
Di sore yang melowdramatis ini, akhirnya aku mabuk-mabukan lagi dan bisa tertawa riang lagi.sleketep.

Tahun 2020 …. Dargombez dan Gembul tercatat sebagai deretan orang terkaya yang ada di foto ini dan di kampung kami.
“Wallahu a’lam bishawab.”
