Hingga hari ini saya masih saja merasa lebih nyaman makan di warung-warung kecil ndepis di pojok-pojok kota kala harus beranjangsana ke suatu daerah.
Memang dari aspek “privasi” makan di tempat sederhana spt itu boleh dibilang termasuk barang langka krn kita harus berbagi bangku panjang dg pengunjung lainnya. Piring dan gelas pun juga harus “didempetke ” tepat di depan kita agar bisa memberi ruang buat piring-gelas pengunjung di sebelah kita.
Berkurangkah kenyamanan kita? Buat saya sih tidak, lantaran saat geser-menggeser piring dan gelas selalu dilambari komunikasi santun dari pengunjung yg datang belakangan.
Warung di foto ini hanya berukuran sekitar 10 × 10 meter saja, menempel di samping rumah induk pemiliknya. Bangku kayu panjang dan meja kayu adalah perabot utama warung. Tak ada daftar menu di atas meja, cukup bicara face to face untuk bertanya tentang menu apa yg ada dan memesannya. Simpel sekali.
Mungkin bagi generasi milenial jarang yg terbiasa “merambah” dunia kuliner jadul model ini. Pastinya mereka juga akan kikuk pada awalnya saat mencoba “bertualang” ke area jadul spt itu. Hal yg wajar jika itu yg terjadi lantaran mereka lbh akrab dg tempat-tempat makan cepat-saji.
Saya dan istri senantiasa mengajak anak-anak untuk mengunjungi warung-warung spt ini agar mereka tak hanya mengenal “warung-warung” dengan brand luar negeri.
“Supaya kalian nanti nggak kebingungan mau makan apa jika harus berada di pelosok desa.”
” Di samping nglarisi pedagang model jaman bahuela,nanti bila suatu saat bingung mau makan apa jika berada di pelok desa.”
Itu hanya secuil kiat kami untuk menyiapkan mereka agar nanti bisa beradaptasi di berbagai kondisi yg berbeda dg keseharian mereka.
“Kalian bisa nyaman makan di KFC,tapi di warung seperti ini kita juga bisa mbathi sedulur di warung sederhana seperti ini.”
Alhamdulillah di temanggung pun masih banyak warung-warung sederhana spt itu, jadi tidak sulit utk mengajak anak-anak mengenali “produk desa” yg sederhana meskipun kami tinggal di kota.




