

Sego Nggeneng Mbah Marto
Teori marketing modern selalu mengajarkan kunci sukses bisnis: lokasi, lokasi, lokasi! Tapi para leluhur kita dahulu pun tak putus mewanti-wanti: jangan pernah melupakan apa yang menjadi asal-muasal kesuksesanmu. Maka, para penganut bisnis modern pun sibuk berburu lokasi strategis, sementara pengusaha tradisional tetap merawat asset lama mereka.
Sego nggeneng
Dahulu, ketika warung makan belum menjamur seperti sekarang, masih banyak dijumpai penjual nasi keliling. Banyak di antara para penjual makanan ini berasal dari Karanggeneng, sebuah padukuhan di sebelah barat kampus ISI Jogja. Dari Karanggeneng biasanya mereka berpencar menempuh rute masing-masing, misalnya ada yang dari Nggeneng menuju Krapyak—Plengkung Gading—Keraton—Bringharjo. Ada yang lewat Minggiran—Pugeran—Tamansari—Bringharjo, ada juga yang lalu menempuh rute Krapyak—Jogokaryan—Timuran—Jokteng Wetan—Bringharjo, dsb.
Di sepanjang rute itulah mereka sesekali berhenti untuk melayani pelanggan. Pada dasarnya mereka tidak menolak ketika orang membeli dagangan mereka di sepanjang perjalanan, baik dari rumah menuju pasar maupun sebaliknya, selama dagangan masih ada. Nah, karena sebagian besar pedagang nasi keliling itu berasal dari Karanggeneng, maka orang lalu terbiasa menyebutnya sebagai “sega Nggeneng” (nasi dari dukuh Karanggeneng).


Zaman pun berganti. Setelah tahun 1990-an, jumlah warung makan di sepanjang jalan sudah tak terhitung lagi, penjual nasi keliling di Jogja semakin sulit mendapatkan pembeli. Maka penjual sega Nggeneng pun memilih berjualan di rumah sendiri. Tamatkah kisah bisnis mereka?
Tidak. Zaman boleh saja berganti. Tapi globalisasi yang dipercepat oleh revolusi teknologi komunikasi justru memungkinkan setitik kecil lokasi warung sega Nggeneng yang tersembunyi tetap dapat diakses di peta kuliner Jogja, bahkan Indonesia. Warung mbah-marto- Martodiryo atau biasa dikenal juga sebagai Mbah Marto Gowok di dusun Nengahan, Karanggeneng, Panggungharjo, Sewon, Bantul ini tidak memasang tanda apa pun di depan rumah sekaligus warungnya. Tapi sebenarnya tidak terlalu sulit menemukannya. Dari kota Jogja, silahkan ke selatan menuju jalan Parangtritis. Selewat kampus ISI dan kantor pos Sewon, berbeloklah ke kanan (barat) rodo ndelik basa jawane. Sesampai di dusun Nengahan, tanya saja di mana rumah Mbah Martodiryo pemilik warung sega Nggeneng.

Mangut lele Mbah Martodiryo sekilas tampak biasa saja. Hanya saja, cara memasak yang berbeda ternyata menghasilkan sensasi rasa dan aroma yang berbeda pula. Lele yang telah dibersihkan tidak lantas digoreng, tetapi diasapi/dipanggang di atas bara sabut kelapa sehingga meninggalkan aroma sangit yang khas. Bahkan tusuk yang digunakan tidak terbuat dari bambu, tetapi dari pelepah kelapa yang dipotong-potong kecil-panjang dengan salah satu ujung yang meruncing. Tusuk dari pelepah kelapa ini akan berminyak saat dibakar sehingga tidak membuat daging lelenya lengket.
Setelah masak, semua menu berupa mangut lele, daging ayam, tahu-tempe dan telur ayam, sayur daun pepaya, serta sayur rambak pedas dalam baskom dan panci besar telah ditata di atas amben (balai-balai) di sudut dapur. Jangan salah, masakan Mbah Martodiryo ini bukan hanya pedas, tetapi justru pedes banget. Namun uniknya, rasa pedas tadi hanya di mulut, tak sampai di perut.
Dunia kadang memang aneh. Ketika sebagian orang masih bermimpi untuk mengejar gaya hidup kota metropolitan yang begitu gemerlap, justru menjadi paradoks ketika menikmati mangut lele beserta aneka masakan yang dihidangkan di sebuah dapur kampung berdinding hitam penuh jelaga milik Mbah Martodiryo. Agaknya justru merupakan sebuah kemewahan yang mungkin begitu didambakan oleh para ‘orang kota.’
Aneh? Mungkin. Teori dan asumsi terus diamini, menjadi trend, menciptakan gaya hidup massal, sedemikian massal sehingga pada saatnya lalu dibilang basi, tidak menarik lagi, dan saatnya muncul anomali, melahirkan teori baru lagi, asumsi lagi! Lihatlah aktivitas para pelanggan saat asyik menikmati sega Nggeneng Mbah Marto. Apakah tampak kampungan, bersahaja, keren, eksotis atau apa lagi, semua bergantung sampai di mana perputaran roda kehidupan ini, teori mana yang sedang digandrungi. Ah, apakah kita peduli?
