Perjalanan terbaik kadang adalah yang tidak direncanakan sama sekali. Saya pikir begitu. Pun dengan gowes saya di Rabu pagi lalu. Saya berencana gowes atau bersepeda menuju tebing breksi kemudian turun , cari sarapan,pulang.
Perjalanan bersepeda dimulai dari kecamatan pleret menuju candi banyunibo ini , setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh dari Pleret.Sempat terjadi insiden kecil dan membuat kaki atau tepatnya dengkul saya mlocot terluka karena jatuh,mungkin karena tidak konsentrasi di jalan sehingga berakibat ngglangsar,untung cuma lecet.Sampai di banyunibo ,Istirahat dan minum sambil menikmati pemandangan di sekitar tebing bertuliskan banyunibo yang terbuat dari pahatan batu -batu besar serta kolam yang penuh dengan ikan yang menyegarkan mata.Puas melihat-lihat candi banyunibo, perjalanan pun dilanjutkan ke arah utara menuju candi banyunibo. Melewati jalan blusukan dan jalan mulai nanjak.

Jalanan kampung model cor semen membuat ban sepeda jadi selip atau nglusut karena memang menanjak licin,tajam dan berkelok-kelok.Kanan kiri tanjakan masih banyak di tumbuhi rumput liar dan diselang-selingi oleh rumah-rumah penduduk. Sampai saya tiba dekat sebuah pertigaan yang berada di sebuh percabangan dan istirahat sebentar kemudian lanjut kekiri menuju jalan aspal ke arah tebing breksi. Dari titik ini tenaga saya sudah terkuras dan minuman air botol sudah hampir habis.mengkis-mengkis, dengan pelan-pelan saya kembali mengayuh,alon-alon nakyo tekan, memang semangat saja tanpa diimbangi latihan yang rutin hanya membuat ngoyo atau terlalu dipaksakan.tapi yowis lah,hlawong niat saya gowes cuma buat konten dan foto-foto kok,buktinya ini bisa bikin tulisan ngawur,dan satu lagi tujuan kebanyakan orang bersepeda yaitu cari sarapan.he..he.Weslah lanjut lagi gowesnya, melihat pintu masuk tebing breksi ini rasanya senang setengah modyar, pertanda tujuan hampir sampai.Setelah itu turun dan pesen wedang panas dan soto.
Sesampainya di lokasi ada bapak-bapak yang sedang asyik istirahat di tempat ini,dia bersepeda menggunakan sepeda Seli,dengan gayanya yang sangat santai dengan ramahnya menghampiri kami yang baru saja sampai pintu masuk tebing breksi ini.Sambil jeprat – jepret Selfi bapaknya ini sesekali memberikan ceramah tentang tips-tips cara kuat gowes di tanjakan.dengan gayanya dan bahasanya yang khas bapak ini nampaknya seorang goweser yang sudah sangat pengalaman dan sudah banyak malang melintang di dunia per sepedaan.
Di saat saya masih ngos-ngosan karena tanjakan yang kami lalui ini mblusuk dan ngalang atau kira-kira dua kali jaraknya dari rute bapak ini,yang tentunya tenaga yang di keluarkan lebih banyak dan lebih bikin kewer. Karena memang rutenya jadi lebih jauh dan lebih menanjak .Dengan sedikit tersenyum tapi lebih kelihatan merenges bapaknya yang berpenampilan nyetil ini bertanya pada kami.
” Lha thik munggah candi ijo ngeneki,gek injuh ngatur napas,lanjut ngejo Karo singsot muuoass.”
” Kulo niki mung rombongan kewer je,pak wes ra kuat nek langsung lanjut !.”
Kami bersepeda berempat, kebetulan saya yang paling kewer,dan tertinggal jauh dari teman-teman saya,kebetulan bapaknya tadi juga melihat ketiga temanku tadi yang sudah nggeblas dan teman-teman sudah leyeh-leyeh di gerbang pintu masuk tebing breksi ini,”kesuen,”, katanya bapake tadi,saya masih tenger-tenger.”ndasmu,batinku.
” Cah telu buanter -buanter iku mau ,atek yo rombongan njenengan tha ?.” tanya bapaknya lagi.
” Nggih pak,niku nggeh mung cah keweran”.jawab saya.
“Bezuuuuuunggg tallaahh thik ngejo kuat
temen neh wong telu kuwi…gek ndang awi munggah candi ijo,teko tak andani ben ora nglepeh….”
“Hla pripun pak,carane ben kuat nanjak ?” Tanya saya.
“nggenjot pedal ki thik…..karo nyanyi neh !.”
….ngejo nggleling tenan wongeke nganti gumun aku ki.Tiba- tiba saya ikut-ikutan bicara dengan gaya bahasanya, meskipun cuma mbatin.Bapak ini lalu mengajak kami kembali meneruskan gowes menuju candi ijo yang jaraknya tidak terlalu jauh tapi jalanan masih nanjak, semangat kembali menggelora setelah di beri wejangan atau arahan bapaknya yang berpenampilan bak guru penjaskes tadi.”thik leren jo sui-sui neh.”katanya ,pak guru ini seperti sedang bicara sendiri tapi dagunya di angkat ke arah kami.
Awal gowesan pertama teman – teman dan saya sengaja mengimbangi kayuhan bapak gaul ini.Dan guru penjaskes tadi masih bicara mriwik dengan ceramah-ceramahnya yang bijaksana sana, sambil mengayuh sepeda,saya pikir bapak guru ini hebat dalam hal menerabas berbagai macam tanjakan, tetapi belum sampai limapuluh meter dari pintu gerbang tebing breksi ini,bapak guru ini ternyata sudah kelihatan napas tuanya,mulai sengkil-sengkil di sertai batuk-batuk yang di sengaja supaya tidak terlihat sedang ngeden dalam kayuhan sepedanya.
Begitu bapaknya tadi terlihat pucat,tanpa basa basi kami berempat langsung tancap gas, bak batu kerikil yang di lesakkan dari ketapel dengan karet pentil rangkap tiga…..wuss…wusss…. Bapak guru penjaskes tadi sudah tidak kelihatan batang hidungnya tertinggal jauh sejak tigapuluh meter, sesampainya di lokasi candi ijo,kami tertawa nyengir kuda, antara kagum dan mrenges, kadang teori tidak semudah yang di praktekkan, seperti apa yang barusan guru penjaskes sampaikan dan praktekkan.
Woalaaah pak….pak !,thik lucu sampeyan.
Sambil menunggu bapak guru penjaskes tadi kami foto-foto dengan latarbelakang candi ijo yang sangat indah dan mengagumkan ini,saya hampir menghabiskan satu batang rokok,dan pak guru belum juga kelihatan,mungkin dia sedang tenger-tenger dengan badan yang semende di bawah pohon.Dan begitu bapak guru penjaskes tadi mulai kelihatan mecungul dari bawah dengan napas megap-megap kami pun langsung ngacir melanjutkan perjalanan,ben kapok.
Sungguh dagelan pagi yang sangat wagu tetapi dapat menghibur kami.

Setelah istirahat terasa cukup, kami lalu melanjutkan perjalanan lagi menuju batu papal, kemudian lanjut melewati rute perkampungan menuju tempat selanjutnya bukit-obelixs-atau-bukit-klumprit.Dan perjalanan terasa menyenangkan setelah mampir di warung soto jurang yang berada di arah selatan bukit klumprit menuju ke arah pulang.



Source:
https://www.instagram.com/explore/locations/305329349933320/tebing-breksi-yogyakarta/




